Seperti yang kita ketahui, serangga memiliki sejarah yang panjang dari zaman purba hingga zaman sekarang. Mereka sudah jauh muncul didunia jauh sebelum manusia, namun rupa seranggga yang kita temui sekarang ini berbeda dari zaman purba, mereka juga mengalami perubahan fisik seperti evolusi yang hingga saat ini sudah mencapai umur kiranya 250 juta tahun. Lebih dari 750.000 spesies serangga sejati telah dideskripsikan diseluruh dunia. Selama berabad-abad manusia memerangi serangga sebagai hama, pembawa penyakit dan penghancur makanan. Hal ini akan terus berlanjut, karena manusia tidak akan pernah bisa membasmi satu spesies pun.

Ada masalah dalam dunia pest control saat ini dalam hal memerangi serangga yaitu resistensi terhadap insektisida. Akibatnya, metode control untuk serangga saat ini tidak cukup hanya dengan metode penggunaan insektisida melainkan kita perlu kombinasi sesuatu dengan insektisida.

Serangga sering kali dianggap sebagai musuh yang paling Tangguh. Mereka tidak hanya merusak tanaman, tetapi serangga seperti lalat, kutu, nyamuk dll dapat menyerang manusia dan hewan peliharaan. Juga, mereka dapat menularkan penyakit berbahaya kepada manusia dan hewan.

Penularan Penyakit pada Manusia

Meskipun gigitan atau sengatan serangga kadang-kadang menyebabkan penyakit parah atau berakibat fatal bagi manusia dan hewan, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Penularan penyakit secara aktif dan pasif dapat terjadi. Misalnya, ketika lalat hanya menghinggapi buah atau makanan lain, maka lalat akan menurunkan bakteri pada kakinya, menurunkan bulu tubuh dan permukaan lainnya yang didapat dari kotoran yang mereka hinggapi pada sebelumnya kemudian ke manusia. Contoh lainnya adalah kecoa, mereka yang datang ketempat manusia setelah melewati saluran air dan tempat kotor lainnya.

Penularan penyakit secara biologis terjadi ketika serangga, seperti kutu busuk atau kutu, semut dan lainnya, melengkapi penyelesaian siklus hidup penyakit atau parasit. Seperti contohnya Nyamuk Anopheles tertentu, adalah pembawa penting dan vektor parasit malaria. Parasit ini menjadi bagian dari siklus hidupnya di pembawa Anopheles dan sebagian lainnya di inang manusia.

Penyakit juga ditularkan melalui hubungan host-vektor. Penularan seperti itu seringkali lebih rumit dengan lebih dari sekadar pembawa penyakit secara langsung dari satu inang ke inang lainnya. Beberapa inang lain yang disebut “reservoir” tidak terpengaruh oleh penyakit tetapi mampu melestarikan organisme penyakit dengan menyediakan perlindungan yang aman bagi organisme penyakit. Beberapa burung, misalnya, adalah reservoir ensefalitis yang ditularkan oleh nyamuk (kadang-kadang disebut “penyakit tidur”). Burung-burung itu tidak terkena akibat oleh virus ensefalitis, tetapi ketika nyamuk menghisap darah burung itu dan kemudian menggigit manusia atau kuda, virus itu dapat memberikan hasil yang serius atau fatal.

Serangga pada umumnya tidak dapat menularkan penyakit kecuali mereka telah menggigit korbannya. Sebagai contoh, nyamuk Anopheles tidak dapat menularkan malaria kecuali jika ia pertama kali menggigit seseorang dengan parasit malaria (di samping itu, sering kali ada “masa inkubasi,” periode antara ketika penyakit itu diambil oleh serangga dan waktu ketika dapat menularkan penyakit). Beberapa kutu dan tungau, bagaimanapun, dapat menularkan organisme penyebab penyakit.